Senin, 31 Maret 2014

cerita tentang kisah boneka2 terkutuk

  1. Harold

    Boneka ini diperkirakan dibuat tahun 1930. Dengan kondisi yang sudah compang-camping ternyata boneka ini dapat bergerak sendiri bahkan ada suara terdengar dari boneka tersebut.
  2. Mandy The Doll

    Mandy the Doll sekarang dipajang di Quesnel Museum di Old Cariboo Gold Rush Trail, British Columbia. Mandy didonasikan ke museum di 1991. Saat itu baju yang dikenakan sangat kotor, badannya rusak dan kepalanya penuh dengan retakan. Saat di periksa, umur Mandy bisa dibilang sangat tua yaitu 90 tahun. Perempuan yang mendonasikan Mandy, Mereanda, mengatakan kepada museum bahwa ia selalu bangun di tengah malam dan selalu mendengar bayi menangis di basement. Ketika diperiksa, ia menemukan bahwa jendela di dekat boneka terbuka, padahal sebelumnya jendela dalam keadaan tertutup. Setelah boneka tersebut didonasikan ke Museum, ia tidak pernah lagi diganggu oleh suara tersebut.
  3. The Devil’s Baby Doll

    Boneka dengan ukuran bayi asli ini adalah boneka terseram yang dapat kita lihat. Dengan kulit berwarna merah an bola mata kaca berwarna biru terang. Kelucuannya tertutupi oleh iblis yang bersemayam di boneka tersebut. Boneka ini sangat tidak disarankan untuk dijadikan mainan anak, karena aslinya diberikan sebagai hadiah untuk temannya yang telah meninggal. Tetapi boneka ini dapat bergerak sendiri dan sering terdengar raungan aneh dan bunyi-bunyi aneh darinya.
  4. Pupa

    Pemilik awalnya memiliki boneka ini pada umur 5-6 tahun (1920-an) sampai ia meninggal di bulan July 2005. Boneka ini luput dari kehancuran Perang dunia kedua dan beberapa kecelakaan yang menyebabkan boneka ini hancur. Boneka ini selalu dibawa oleh pemiliknya kemanapun ia akan pergi, sama seperti Harold.
    Pupa dikatakan dapat bergerak sendiri. Sering dilihat mendorong barang di sekitar tempat pajangan di rumah pemiliknya. Sampai pemilik awalnya meninggal, pupa menjadi sangat aktif dan seperti ingin dilepaskan dari tempatnya disimpan. Boneka ini dikenakan pakaian baju biru. Ia sering dilaporkan mengganggu orang yang merawatinya. Sering pula Pupa berada di tempat yang berbeda daripada tempat terakhir ia dilihat. Ada kejadian keluarga tersebut mendengar seseorang mengetuk kaca saat mereka melewati kotak pajangan tempat Pupa disimpan. Ketika mereka melihatnya, mereka melihat bahwa tangan Pupa berada di kaca dan posisinya berbeda dari sebelumnya.
  5. Allice

    Allice tinggal bersama pemiliknya Marie Ford di Washington. Boneka ini membisikan suara jika kamu mendekatkan telingamu ke bibir boneka. Matanya akan mengikutimu saat kamu ada di ruangan ini dan ekspresinya akan berubah jika ia tidak menyukaimu. “Boneka ini milik keluargaku untuk beberapa tahun ini dan selalu disimpan di box boneka yang terkunci” kata Marie. “Nenekku mengatakan bahwa boneka itu dirasuki oleh roh “teman dekat” Alice yang meninggal”. “Aku telah menangkap EVP darinya, dan kalimat yang sering diucapkan “I want to be left alone to suffer”.
  6. Robert The doll

    Boneka ini sebelumnya dimiliki oleh seorang painter Robert Eugene Otto dari pengasuhnya. Banyak gosip mengenai pengasuhnya ini, ada yang mengatakan pengasuhnya ini mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan dari orang tua Eugene, sehingga untuk membalas dendam ia memberikan boneka terkutuk ini untuk Eugene. Tetapi Eugene menganggap pemberiannya ini sebagai tanda cinta pengasuhnya, sehingga ia menamainya Robert dan memakaikan baju kepadanya. Selama hidup Eugene, Robert selalu berada di sisinya.
    Sebulan setelah kedatangan Robert di rumah keluarga Otto, gangguan mulai muncul. Barang-barang suka hilang dan rusak, dan Eugene memiliki kebiasaan yang aneh, sering keluar dari jendela kamarnya dan jalan-jalan di tengah malam. Suatu ketika Eugene dipergoki keluarganya, tetapi ia menjawab “Robert yang melakukannya”.
    Sekarang Robert bersemayam di Historic Custom House dan dipajang di display tertutup rapat. Ia masih mengenakan baju sailor suit Eugene dan memeluk teddy bear. Beberapa pengunjung menyimpan permen pepermint di depan displaynya dan sewaktu dikunjungi lagi hanya akan tersisa bungkusnya yang berserakan di sekitar Robert.
  7. Joliet The Haunted Cursed Doll

    Joliet adalah boneka terkutuk dan berhantu. Cerita mengatakan bahwa Joliet berasal dari 4 generasi sebelumnya, dari sebuah keluarga. Anna G mengatakan bahwa boneka ini diturunkan dari ibu ke anaknya dari sebuah keluarga. Dan setiap anak perempuan dikutuk untuk memiliki 2 anak, perempuan dan laki-laki dan setiap anak laki-laki akan meninggal dalam 3 hari. Keluarga ini mempercayai bahwa anak-anak ini dikutuk untuk menempati boneka ini sampai hari penghakiman.
    Joliet sering didengar menangis di tengah malam dengan suara beberapa bayi secara bersamaan. Sering pula didengar suara teriakan yang membuat merinding. “Boneka ini diberikan oleh teman nenek buyutku yang cemburu, ketika ia mengandung anak laki-laki. Sejak itu semua anak laki-laki akan meninggal dalam waktu 3 hari setelah kelahiran. Setiap keluarga mencintai boneka itu dan merawatnya untuk anak-anak yang telah meninggal hingga hari ini. Anakku akan melakukan hal yang sama jika ia sudah dewasa.” kata pemiliknya.
    “Kita tidak pernah untuk mengusirnya, karena kita mengetahui bahwa roh anak laki-laki kami terperangkap didalamnya dan kami tidak ingin melukainya.”
  8. Annabele

    Tahun 1970, seorang ibu berjalan ke toko hoby dan membeli boneka Raggedy-Anne sebagai hadiah untuk anaknya. Lalu mulailah kasus boneka hantu yang tidak biasa. Karena sifat Annabelle yang sangat jahat, di tahun yang sama ia mengganggu dua orang perawat yang menyebabkan dilakukan investigasi paranormal oleh gereja. Sekarang ia dikunci didalam gelas kaca yang tertutup rapat di museum occult untuk mengurungnya.
  9. Haunted Doll Voodoo Zombie

    Cerita ini dikirim oleh seorang perempuan di Galveston, Texas yang membeli boneka Zombie Voodoo Doll yang asli di bulan Oktober 2004. Boneka itu datang dan diikat di box metal. Menganggap bahwa hal itu hanya hiasan, ia mengeluarkan peti mati kecil dan membukanya. “Benar-benar kesalahan terbesar.” katanya dalam keadaan ketakutan. Boneka terkutuk itu menyerangnya berkali-kali. Kekhawatiran nyawanya terancam, ia mengambil tindakan menyimpannya kembali ke boxnya. tetapi boneka itu menyerangnya dalam mimpinya. Akhirnya ia mangambil tindakan lain untuk menghancurkannya, pertama ia membakarnya, tetapi boneka itu tetap utuh tidak terbakar sedikitpun. Kemudian memotongnya dan kemudian menguburnya di kuburan. Tetapi boneka itu tetap muncul di depan pintu rumahnya dengan penuh lumpur.
    Ia mengatakan, ia juga pernah menjualnya kembali, tetapi semuanya tetap sama. Pembeli mengatakan bahwa bonekanya hilang dan ia menemukannya kembali di pintu depannya. Kejadian itu berulang sebanyak tiga kali. Akhirnya ia meminta bantuan pendeta untuk menguncinya di box silver dengan bacaan-bacaan suci dan menyimpannya di atap rumahnya. Foto diatas diambil saat dibuka pertama kalinya sebelum ia mengetahui bahwa boneka tersebut boneka terkutuk.
  10. Jelangkung

    Permainan mistik asli Indonesia dimana permainan yang menggunakan boneka yang terbuat dari tempurung kelapa ini akan berusaha memanggil makhluk gaib untuk masuk ke dalam boneka atau benda yang dibuat menyerupai orang-orangan tersebut dengan mantra manjur “Jelangkung jelangsat, di sini ada pesta, pesta kecil-kecilan. Jelangkung jelangsat, datang tidak diundang, pergi tidak diantar”. Setelah mantera diucapkan maka jelangkung akan bergerak dengan sendirinya

Kamis, 13 Maret 2014

BASEMENT B-07


diusahakan tidak mengCOPY-PASTE cerita ini sebelum izin --> 285130DE

          "Ri,, kamu tau tentang basement gedung itu?" tanya rona padaku. "ya tahu lah! ayahku kan kerja disana" ucapku ."tapi rihana, memang ayahmu masih betah kerja disana?" tanya rona lagi. "memang sih ayahku selalu mengeluh, ayahku pernah mendengar suara2 aneh di basement itu,tapi bagaimana lagi hanya itulah pekerjaan yang gaji nya sangat besar didunia" jawabku. "memang ayahmu kerja apa" tanya rona lagi. "ayahku pembuat mobil ternama didunia"jawabku. "baiklah! makasih telah menjawab semua pertanyaan2ku sampai jumpa" teriak rona
           "udah jam 12 malam kok ayah belum pulang bu?"tanyaku."mungkin ada rapat atau sebagainya, sebaiknya kamu tidur saya sayang"jawab ibu "baik bu"ucapku. aku segara tidur dan memasukan tubuhku ke selimut pink ku yang tebal.
             "ayah...ayah jangan tinggalkan aku ayah!!" "rihanna..rihanna kenapa sayang..?"tanya ibu "Hanya mimpi ,mana ayah bu?"tanyaku. "ayah belum pulang sayang"ucap ibu sedih. "bu aku takut karena basement itu" tangisku. "ibu sudah menelphonenya?" tanyaku. "hanya ada suara nafas yang didapat setelah ibu menelphonenya" ucap ibu sambil menghapus air matanya. DEG..DEG..DEG.. "aku segera kembali bu aku harus ke basement itu" kataku. "tidak bisa sayang! ibu tidak mau kehilangan anak sendiri" kata ibu. "tak usah khawatir!"kataku. aku menggoes sepedaku sambil melirik ke jam tanganku "baru jam 12 malam?!!!! aneh sekali.. padahal tadi aku merasa tidur selama 6 jam lebih"
               "Ronaaa..Ronaaa"teriakku. rona keluar dengan memakai piyama polkadot. "Hoam... ada apa baru jam 12 malam begini"kata rona. "ayahku tak kunjung pulang kerumah rona! kita harus mengecek nya" kataku. "mungkin ayahmu ada rapat" kata rona. "saat ibuku menelphonenya hanya ada suara nafas yang didapat dan saat tadi aku membicarakan ayah pada jam 12 malam dan aku tidur saat aku terbangun jam masih menunjukan ke arah jam 12 padahal tadi aku tidur lamaaaaaa sekalii hampir 6 jam lebih" ucapku. "aku tak percaya itu!" kata rona. "aku bersumpah rona,aku takut sekali"kataku. "yayaya terpaksa aku ikut"kata rona. "rona tak ada waktu lagi pakailah piyama mu" kataku."apa kau gila? piyama ini transparant tau"kata rona. "pakailah jaketku" aku segera melemparkan jaketku ke muka rona. "baiklah!" rona menduduki bagian belakang sepeda aku.
                  Sesampainya di gedung car cca98 "pagarnya ditutup?" kataku tak percaya "masuk lewat belakang rihana cepat" kata rona. aku menggoes sepeda ku ke belakang gedung dan segera ke basement. sesampainya ke basement
http://www.spacefilmlocations.com.au/images/gallery/carparking/bell_city_carpark_ramp.jpg
"ayahh..ayahhh"teriakku. "jangan teriak rihanna, pancing saja amarah hantu-hantu disini" kata rona. tiba-tiba di depan ada makhluk aneh yang sangat tinggi sekali kira-kira 5 meter. "ro..rona ki kira ki ra ki ki ta ma ma u nga nga ppa innnn nih" kataku. "a aku juga tak tahu" kata rona ketakutan. makhluk aneh itu mendekatkan mukanya dekat sekali denganku. hiih mukanya sangat berantakan darahnya bercucuran kemana-mana matanya sobek,lidahnya pun tak punya,mulutnya normal,kepalanya bolong. "RONAAAAAAAAA!!!!!!!!" aku berteriak. ternyata rona dibekap oleh 2 pocong merah. aku lari dari hadapan makhluk aneh itu dan segera menuju tempat persembunyian. "HIHIHIHIHIHIHIHI"  aku tau itu pasti suara kuntil anak tapi su...su.. aranya kecil sekali be be rarti. jreng muka kunti ada di belakang bagasi mobil yang tak ku kenal. saat kuteliti plat nomernya B 223 KA "itu kan mobil yang pernah kecelakaan di jalan tol km 9? dan yang mengemudikannya satu orang cewek mahasiswi" kataku. dari sebrang sana ada sebuah kursi, kursi itu darahnya sangat banyak. tak disangka mobil B 223 KA itu sudah menghilang ntah kemana. Aku melihat ke arah jam tanganku. "pukul jam 12 malam yeah HEBAT!!!" gumamku. aku berjalan santai pura2 tak tahu apa yang sedang terjadi dan menuju kearah yang tidak ada tujuannya. aku bersenandung hebat! keras sekali. aku tak tahu kenapa aku begini. aku ketawa sekencang2nya hampir sama dengan suara kuntilanak, aku sadar ternyata aku sedang di kendalikan oleh setan. mataku terbuka lebar,mulutku keluar cairan darah yang tak ada henti. jantungku berdebar sangat kencang, jari2 ku sudah bisa aku putuskan. kepalaku tak bisa aku gerakan, aku sangat pasrah. pertama kali aku menyerah semua itu sudah takdir harus dinikmati, tiba-tiba dari sebrang sana ada mobil hitam menabrakku tapi hebatnya aku masih hidup walaupun terbelah2. dari sebrang sana pula ada suara yang tak bisa aku dengar suaranya mirip seperti ayah dan rona. ayah mengendalikanku dan mencoba membacakan doa2 tapi kubekap mulutnya, padahal  ayah mencoba menolongku, aku patahkan jari tangannya, ayah meneteskan air matanya ke hatiku, rona memelukku
                    tiba-tiba "rihana bangun sayang" aku mencoba melirik ayah,ibu,kakek,nenek,dan rona tubuhku dipasang banyak perban kaki aku pun di amputasi. "bu aku sedang ada dimana" tanyaku. "di RS sayang"katanya. "apa yang terjadi?" tanyaku.
sejak kejadia itu aku  sering mengalami kemasukan setan

Rabu, 12 Maret 2014

SCARY HOSTEL

diusahakan tidak mengCOPY-PASTE cerita ini sebelum izin --> 285130DE

 

         Sudah Lama ayah cerai dengan ibu. aku memilih ayah entah kenapa. Saat itulah ayah menikah oleh gadis yang cantik dan terlihat keibuan , yang sebenarnya tidak. gadis itu sangat membenciku entah kenapa. tapi didepan ayah dia memperlihatkan bahwa gadis itu sayang denganku. ayah selalu memujinya. Pada suatu hari gadis itu dikaruniai anak dan aku pun sudah beranjak berumur 9 tahun aku selalu diperlakukan sebagai budak. saat itu ayah tau bahwa gadis itu tidak seperti yang ia bayangkan. semenjak itu aku memilih untuk tinggal di asrama ayah pun setuju dengan rasa khawatir.disanalah aku mengalami masa2 yang sulit dipercaya

         "yun.. kamu kenapa"tanya bu rahmi kepadaku. aku hanya menatapnya dan tidak menghiraukannya baru 2 hari aku disana tapi sudah terbayang masa depanku nanti. "yunda kamu sakit mau ibu panggil pak yamin?"kata bu rahmi. "tidak usah"kataku polos. bu rahmi meninggalkanku polos. aku merenung suatu trjadi pada ayah. walaupun sudah 2 hari aku sangat rindu pada ayah. aku keluar dari kamarku. "yun temani aku dong dikamar"kata virgie menatapku. "aku mau ke wc dulu"ucapku. "aku ikut" kata virgie menatapku. aku menggandeng virgie. aku berjalan menuju lorong gelap sangat gelap asrama ini hanya mempunyai lampu-lampu yang redup dikamar-kamar asrama ini pun begitu."virgie mau buang air juga?" tanyaku. "iya satu kamar mandi berdua ya takut nih diluar"tanya virgie. aku hanya senyum. selesai buang air. aku yang duluan keluar sontak kaget melihat sosok makhluk melambaikan tangan padaku. aku membetulkan tali sepatu ku dan melihat kearahnya lagi. AHHH senyumannya berubah menjadi tangisan. sontak saja aku kaget. "vir sudah membersihkan pembalutnya kok lama banget sih ucapku dariluar kamar mandi. pintu terbuka tap dubrakkk... "yun.. lari yun lari!" kata virgie. tanpa basa-basi aku berlari menuju kamar. hosh..hosh aku menoleh kebelakang yuri sudah tidak ada.
 http://3219a2.medialib.glogster.com/media/34/34621e302b673f89d645411026d9af1ea5ce3c0475a5ff9db1653a3fcd876df0/running-minorin-jpg.jpg
sudah sampai kamar aku melihat virgie sedang asik memainkan handphone nya. "dari mana saja kau? virgie" ucapku. "dari tadi aku disini,harusnya aku yang bertanya darimana saja kau"kata virgie. aku memandangi virgie. "tadi kau ke wc bersamaku kan dan kamu menyuruhku berlari" tanyaku. "tidak! dari tadi aku mengelilingi halaman bersama bu rahmi" jawabnya mengerutkan alis. aku yang masih memakai seragam asrama heran melihat virgie. "aku pakai baju dlu ya" kataku. virgie tersenyum. "pakai baju saja harus menyombongkan diri"kata virgie. "bukan begitu tahu" kataku. aku mengambil piyama ku dan membuka baju seragam yang berwarna merah. "virgie, minta lagu taylor swift yang terbaru dong"pintaku. "download ndiri"kata virgie. tok..tok..tok "silahkan masuk"jawab virgie. krek.. "bu rahmi? ada apa" tanya virgie. "dimana yunda?"katanya. "i'm here" kataku. "tadi kamu minta ibu kekamarmu ya?ada apa mau ibu panggil pak yamin?" kata ibu rahmi. aku sontak kaget "tidak bu rahmi, saya tidak memanggil ibu" kataku. "oh, baiklah" kata bu rahmi. virgie disampingku melongo kearahku. "yu..yu..nda aa..da aa..paa. di.. di sampingmu?" kata virgie dengan badan yang gemetar. saat aku menoleh sosok makhluk yang tadi aku lihat saat keluar kamar mandi tersenyum mukanya dekat sekali denganku mukanya memar banyak bekas tonjokan. aku mundur saat aku menoleh virgie sudah tidak ada, aku heran pada virgie setiap aku melihat sosok menyeramkan ini virgie pasti menghilang. aku menekan bel tanda pertolongan pada bu rahmi, tapi bu rahmi tidak kunjung datang sosok ini menggusurku sampai ke sudut ruangan. "ini ibu!" katanya. aku sangat gugup. "ibu kandungku?" kataku. "bukan" katanya "ibu tiri" aku kaget mendengarnya. dia mencekik leherku mukaku biru. aku kekurangan oksigen karna sesuatu menyumbat alat pernafasanku. "ibu dibunuh oleh ayahmu" katanya. "ayah bukan pembunuh mana mungkin ia bunuh wanita yang amat ia cintai"kataku membentak. "sebenarnya aku ini adalah VIRGIE" katanya. "mana mungkin! dia itukan anak asrama!" kataku. "sebenarnya sudah 12 tahun yang lalu jasadku terletak dibawah kasur yang aku tempati" katanya aku melihat ke bawah tempat tidur. benar saja ada seorang mayat yang terletak secara menggenaskan. "tolong jangan beri tau aibku. dan tolong kubur jasadku dengan baik" kata virgie. "aku tak bisa sendirian" kataku. aku didorong oleh virgie. sosok virgie itu memelototiku dia membawa pisau yang amat tajam dia hampir membunuh ku tapi tiba2 sosok wanita berambut panjang memegang tangan virgie. "tolonglah nak.. kami sangat mengharapkanmu, asrama ini sebetulnya rumah kami tinggal dlu, tetapi kami digusur warga karna kami mempunyai kesalahan. warga beramai2 membunuh kami dikamar ini. jasad kami tidak dikubur,jasad kami ditempatkan di asrama ini. keluarga kami meninggal secara menggenaskan. mulai dari virgie,ibu,ayah,kakek,nenek,kakak,paman,bibi dibunuh disini. terutama virgie dia digantung hidup2 oleh warga tolonglah kami"katanya. "apa penyebabnya?" wanita itu membuka rambutnya. "ibu?ibu kandungku"tanyaku. "benar sayang,ibu yang melahirkan mu.. ibu di bunuh karena ayah tirimu mengambil dan merampok barang2 warga untuk membeli rumah ini" katanya. "baiklah bu aku akan meminta pertolongan" kataku. aku menelphone ayah dan mengatakan sesuatu yang telah terjadi di asrama ini. ayah terisak saat sampai di asrama dan memeluk jasad ibu kandungku. wargapun ramai2 menguburkan jasad mereka ke tempat yang layak.ibu tiriku memelukku. "kamu pahlawan"ucapnya. akupun dikeluarkan dari asrama dan menempati rumah lamaku. ibu kandungku dan semuanya tersenyum padaku dan mengucapkan terimakasih. bayangan mereka pun hilang mungkin sudah tenang disana.
THE END

HAUNTED HOUSE

diusahakan tidak mengCOPY-PASTE cerita ini sebelum izin --> 285130DE

 

              BRUM....BRUM.. "hoemmm... udah sampai ma?" tanyaku. "sudah sayang .. welcome to new house" kata mama. Aku memandangi seluruh rumah dari ujung keujung. "Apa ini rumah baru kita? kok halaman belakangnya ditumbuhi banyak ilalang dan sedikit kumuh"tanyaku.
http://www.wmcarey.edu/carey/leicester/kibworth/the%20old%20house%204.jpg
"taman belakang memang kaya begitu, kata pemilik rumah yang dulu ilalang ini tidak boleh di potong... sudah tradisi di kota ini" ucap mama. "memangnya kenapa? kan jadi tidak nyaman kalo misalkan banyak ilalang kaya begini" ucap ku. mama hanya menggelengkan kepala dan mengatur nafasnya. "mama kenapa?" ucapku. "mama hanya sesak" ucapnya. "istirahat lah ma" kataku. aku membaringkan tubuh mama yang sedikit lemas. "terimakasih nak" ucapnya. "ma aku mau mengelilingi rumah ini ya" ucapku. mama hanya tersenyum pucat.
              Brush ... BUSHH angin kencang melanda tubuhku. "apa itu ya?" ucapku bertanya-tanya. aku melihat sebuah lorong yang sangat gelap. nglorong itu diberi tanda merah seperti huruf v tapi terbalik. aku mencoba masuk ke arah lorong. bushhh lagi-lagi ada angin yang entah dari mana asalnya. dilorong itu sangat pengap tidak ada oksigen. aku mencoba untuk keluar dari lorong itu tetapi. ahhh sebuah tangan menarik kerah bajuku. "siapa disana"ucapku. tak ada jawaban dari siapapun. aku pun  tidak menghiraukannya . aku membalikan tubuhku. untuk tidak lagi berada di lorong yang gelap itu.
              "mama.. mau aku bantu membereskan rumah?" ucapku. "tidak usah.." ucap mama. "bereskan saja kamarmu"ucapnya. "kamarku disebelah mana ma?" ucapku. "letaknya di lorong v terbalik" ucapnya. "aa..aaa..pp..aa" kataku terbata2. "dilorong itu kan banyak kamarnya, jadi bibi dan paman kamarnya di sebelah kamar tidurmu."ucap mama. "baik" ucapku pasrah. aku mengambil seluruh barang-barangku di bagasi mobil dari yang terkecil sampai yang terbesar. brukk.. "capek banget dah" kataku. "ma! minta es jeruk dong" ucapku yang sedang ada dikamar. mama tidak menjawab. "baik deh gue sendiri aja yang buat" gumamku. aku melihat kepojok jendela seperti ada yang mengintip tapi siapa ya? mungkin perasaan aku saja kali. aku keluar dari kamarku tiba-tiba brak.. pintu kamar menutup sangat keras aku jadi bengong sendiri padahal tidak ada siapa2 yang menutupnya. aku berjalan menuju dapur tapi eh..eh dikamar mandi kok ada suara keran ngalir ya? aku melihat kearah kamar mandi "ahhh mungkin mama tadi menyalakan kerannya" pikirku. bulu kudukku mulai berdiri hawa terasa berbeda dingin... sangat dingin.. tiba2 dibelakang ada yang menepuk bahuku aku menoleh sedikit. ARRGHHHHH "paman? mengagetkan aku saja!" kataku. paman hanya diam membisu entah kenapa, padahal biasanya paman lah yang paling heboh. aku diam memikirkan semuanya dari lorong,menarik kerah,air keran,dan paman membisu ada apa ini?.
                     DI RUANG MAKAN... suasana sangat sepi tidak ada yang mau bicara hanya ada suara garpu,piring,dan sendok. semuanya membisu, akhirnya aku memberanikan diri untuk mengobrol duluan. "Kok sepi?" tanyaku. semua memandangku tajam. mata mama berlinang air mata, aku pergi kekamarku karna aku sangat sedih apabila mama menangis. ada apa ya ucapku dalam hati. "inaka..inaka" seseorang membisik telingaku, aku menoleh kesudut ruangan. gadis mungil berdiri disana memandangku. "Kau siapa?" tanyaku. "inaka"jawabnya. "darimana kau mengapa ada disini" ucapku. gadis itu mendekatiku dan memperlihatkan tangannya. aku sontak kaget dengan gadis itu tangannya berlumuran darah tangan kanannya sobek. aku segera memelototinya. "siapa yang melakukan ini inaka?" tanyaku. "ayah"jawabnya. "ayahmu?" tanyaku lagi. dia menggelengkan kepala. "ayahmu yang melakukannya" ucap inaka. anak itu seperti membiusku aku membisu wajahku pucat didalam hatiku mempunyai ribuan pertanyaan. aku mau mencoba bertanya tetapi saat aku menoleh "Mana gadis itu" ucapku.bulu kuduk ku berdiri.
                     HARI SUDAH MALAM aku memandangi laptopku aku mencari berita jepang terkini yaitu JNEWS  itu sumber berita yang sangat lengkap aku melihat mencari2 nama inaka. "ini dia" kataku. aku memutarkan vidionya. dan mendengar nya jelas dan baik

para pembaca berita...
telah ditemukan anak berusia 12 tahun yang tertembak mati oleh sioniagiao 
yaitu pemburu gajah dijepang
anak berusia 12 tahun ini ditemukan tewas menggenaskan didaerah pulau Yamo
anak itu bernama iciga inaka towigato
bersekolah di japanes school
terlihat tangannya yang tertembak 5 peluru
dan badannya 16 peluru
                                                   terimakasih
                                                        salam
                                                              ima pembawa berita
"pulau yamo kan didepan rumahku? berarti tadi aku berbicara dengan siapa?" gumamku. shuttt aku ditarik oleh makhluk aneh bermuka rata. ckrek aku menjalakan korek api bushh korek api padam. "sisa satu oh tolong aku tuhan" aku menyalakan lagi. saat korek api menyala tiba2 aku melihat inaka duduk di depanku. dia memakai kursi goyang yang amat rapuh. aku melihat reaksi inaka. tiba2 jreng ruangan itu sontak mati. ruangan itu amat padam tiba2. "kak mau main denganku, aku sangat kesepian disini.. ayahku mati dibacok oleh perampok, ibuku di bakar hidup2, kedua adikku keracunan makanan. apalagi aku matiku secara menggenaskan oleh ayahmu!" bisiknya. deg..deg..deg aku berjalan mencari jalan keluar tiba-tiba aku memegang kaki seseorang kakinya sangat kasar sepertinya luka api. ruangan itu tiba2 menyala tapi redup. kaki itu aku tau iitu punya inaka aku pergi mencari tangga. itu dia aku berlari ketika satu anak tangga lagi aku tergusur oleh seseorang aku tau pasti inaka. saat aku menoleh bukan inaka melainkan ahhh tidak ada yang menggusurku. kepalaku terbentur piano tua yang tersimpan disitu. "tolong inaka jgn bunuh aku" kataku. aku berlari ke pintu. selamat! aku berlari kekamar tapi. semua kamarku berlumuran darahhh ahhhhhhhhhhhhhh itu mamaku. perutnya di bacok. aku lihat bayangan seseorang itu mama.  "baru 1 hari pindah udah dihantui" kataku. aku mengelilingi rumah tapi tututunggu ada bingkai foto bertulisan

yang menempati rumah ini, akan mati lihat halman belakang
aku berlari menuju halaman belakang, arghh ribuan mayat tergeletak disana, linu sekali rasanya. mereka meninggal secara menggenaskan. aku memanggil polisi tapi tak ada signal. aku melihat tumpukan paman,bibi,ibu,adikku,dan ayahku sudah menjadi kerangka
jajadi aku diruangan itu sudah berapa tahun lamanya?
dan mengapa jasad mama yang tadi hanya ada bacokan berpindah menjadi kerangka?

Ghost of Shania (Part 2)

“Kita harus cepet-cepet pergi dari rumah ini! Rumah ini berhantu!”
“Ly..” potong Reyna yang nggak pernah percaya sama omonganku.
“TURUTIN GUE KENAPA SIEEHHH!”
Akhirnya mereka mau nurutin perkataanku dan ngebantu aku buat buka pintu yang sudah terkunci ini, hingga akhirnya Azzam nyelentuk dengan bijaknya.
“Mending kita lewat pintu belakang rumah aja, Ly. Tadi gue sama sama Dika sempet nemuin pintu belakang rumah Shania yang masih terbuka.”
“Azzam benar!” Dika tambah meyakinkanku. Dalam keadaan kacau seperti ini, aku juga ikut sejutu karena nggak ada pilihan lain lagi untuk keluar dari rumah hantu ini. Kecuali lewat pintu belakang rumah.
Kemudian kami segera berbalik badan dan mencari jalan keluar ruangan lain. Tiba-tiba.. sosok cewek berwajah menyeramkan dengan mukanya yang dipenuhi luka memar juga berlumuran darah itu berdiri di depan kami berempat. Yang lebih mengerikan lagi, sosok hantu itu berdiri dengan jarak yang begitu dekat dengan kami semua. Alhasil kami menjerit dengan kompak.
“Aaaaa…aaa!”
“Kalian nggak akan bisa pergi kemana-mana!” ancam hantu itu. “Kalian harus mati bersamaku disini!”
“Aaaa…aaaa!”
“Kaa…abbuurrr!” jerit Dika mengisyaratkan kami cepet-cepet kabur. Kami langsung berhamburan kemana-mana. Tapi.. kemana pun kami berusaha kabur, hantu itu tetap aja mengikuti kami dan berdiri di depan kami secara tak terduga.
“Aaaaa…aaa!”
Ruangan rumah Shania gelap banget dan menyulitkan aku untuk mencari jalan keluar bersama temen-temen segengku. Hingga akhirnya, aku terpisah dari mereka bertiga.
“Reyna! Dika! Azzam! Dimana lo semua! Gue takut!” teriakku sesaat di sebuah lorong kecil. Suaraku kedengerannya menggema dari tempat ini. Aku semakin mundur dan aku bingung mau keluar lewat mana.
“Gue mau pulang! Gue mau pulang! Jangan terorin gue terus!”
Hiks.. hiks.. hiks! aku jadi nangis sendirian.
Sesaat.. aku kayak menginjak sesuatu yang empuk di kakiku.
“Apaan ini?!” ujarku sesekali dengan nada terisak.
“Ly…” suara misterius memanggil namaku lagi, dengan nada yang begitu lirih karena kesakitan. “Tolong aku Ly, aku disini. Di bawah kakimu..”
Lantas aku memberanikan diri menunduk ke bawah kakiku. Dan menoleh ke belakang saat kulihat seonggok mayat tergeletak penuh darah di lantai.
“Aaaaaa! Ma.. ma… mayattt!”
Gubrak! Suara hantaman pintu terbuka untukku. Cahaya dari dalam itu terlihat redup dan terdengar desir angin yang mempermainkan rambutku. Aku berjalan dengan nafas terengah-engah. Dengan desah nafas yang nggak karuan juga keringat dingin yang bercucuran keluar, aku masuk ke dalam ruangan kecil itu.
Gubrakk! Pintu itu tiba-tiba menutup sendiri.
“Buka!” aku mengedor-ngedor pintu itu dengan keras dan mengoyang-goyangkan handle pintu itu yang udah karatan. “Dika! Reyna! Azzam! Tolongin gue! Tolongin gue!”
Hiks… hiks… hiks…! aku lagi-lagi menangis dan ngerasa putus asa akibat jebakan rumah hantu ini. Disaat aku nyaris putus asa, hantu cewek itu selalu muncul di hadapanku dan mukanya kelihatan serem banget.
“Aaaaa…aaa!” aku menjerit dengan histerianya.
“Pergi! Jangan ganggu gue!”
“Lily, jangan takut.” Kata hantu itu menyentuh tungkai kakiku. “Aku nggak akan nyakitin kamu dan teman-temanmu.”
“Dan, bukan maksud aku buat nakut-nakutin kalian.”
Aku diam dan mengusap air mataku sekejap. “Trus, kalau kamu nggak nakut-nakutin aku kenapa kamu neror aku?!” aku bersandar di pintu dan menghindar jauh dari tatapan mata hantu itu. Walau aku tahu, ternyata hantu itu adalah Shania yang aku kenal beberapa hari lalu.
“Aku ingin minta tolong sama kamu. Dan aku janji, setelah ini aku nggak akan ngangguin kalian lagi.”
Aku menghela nafas sebentar. Dan dengan ragu-ragu aku jawab, “Mi.. minta tolong buat apa?”
“Keluarkan aku dari tempat ini, Ly. Aku nggak bisa istirahat dengan tenang kalau belum ada orang yang mau ngeluarin aku dari sini.”
Aku terhenyak dan menekuk dua kakiku.
“Sebenarnya, bukan kamu aja yang pertama aku datangin. Ada banyak warga desa ini yang sering aku datangin, terutama eyangmu. Tapi.. mereka malah ketakutan dan mengusir aku, Ly.”
“Aku nggak tahu harus minta tolong sama siapa lagi kalau bukan sama kamu dan yang lain.”
Kedengerannya, pengakuan Shania rada miris dan menyedihkan banget. Bagaiamana orang lain mau nolongin dia, kalau wujudnya nyeremin begini? tapi, kalau cuma aku dan temen-temen yang bisa nolongin dia, aku harus melakukannya apapun itu. Asalkan kami nggak diganggu lagi dan bisa hidup dengan tenang.
Aku kemudian mendekat dan memberanikan diri untuk menyentuh bahu Shania yang dingin membeku itu. Kutangkap sorot matanya yang sayu dan menyembunyikan kesedihan yang amat berat untuk diungkapkan padaku.
“Shan,” panggilku. “Hmm, sorry ya. Kalau boleh tanya, apa yang membuat kamu mati dalam keadaan seperti ini?”
Ia menoleh dengan cepat tanda merespon pertanyaanku.
“Ceritanya udah lama, Ly. Sejak delapan tahun yang lalu.”
Lantas aku mendekat dan menyimak ceritanya. Begini ceritanya..
Dulu, kira-kira waktu aku kelas lima SD aku pernah denger kasus tentang hilangnya seorang mahasiswi yang belum bisa diketemukan hingga sekarang. Dan, mahasiswi yang hilang itu adalah Shania sendiri. Ceritanya bermula saat Shania pulang kuliah, dia dibekap oleh empat orang cewek yang seusia dengannya. Mereka menculik Shania dan menyembunyikannya di rumah ini, tepatnya di dalam gudang tempatku berada. Shania disekap selama satu minggu dan dia mengalami penyiksaan secara bertubi-tubi oleh mereka.
Asal punya usul, ternyata salah satu cewek yang menyiksa Shania adalah temen sekampusnya sendiri. Dan dia adalah mantan pacar Bram. Pacar Shania. Dia menyiksa Shania karena nggak bisa menerima kematian Bram akibat kecelakaan mobil bersama Shania. Bram meninggal, sedangkan Shania selamat. Dan itu membuat mantan pacar Bram menyimpan api dendam sama Shania. Sebenarnya, Shania pernah mencoba kabur. Tapi dia keburu kepergok orang-orang jahat itu. Akhirnya.. sebagai hukuman fisik buat Shania, mereka menjatuhkan batu semen yang beratnya beberapa kilo ke tubuh Shania berkali-kali hingga tewas.
Hiks… hiks… hiks…! nggak terasa aku meneteskan air mataku saat denger cerita menyedihkan dari Shania. Aku nggak bisa ngomong apa-apa lagi, selain aku ngebayangin bagaimana rasanya Shania mengalami hal-hal kejam itu yang mendera tubuhnya secara berubi-tubi. Pasti menyakitkan banget kalau aku ada di posisi Shania.
“Shan,” isakku kemudian. Aku rada sesegukan sambil lanjut bicara, “Jujur, kalau aku jadi kamu dan aku meninggal. Aku ingin nyambangin mereka semua dan melampiasakan dendamku karena mereka udah menghancurkan hidupku dengan cara tragis kayak gini.”
Shania menggeleng dan dia mengulas senyum manisnya lagi. sesaat, aku nggak melihat wajahnya yang dipenuhi luka memar itu. Tapi.. wajahnya terlihat indah dan bercahaya saat senyum padaku.
“Enggak, Ly. Buat apa aku harus melakukan hal itu cuma ingin melampiasakan dendamku sama mereka. Biar Tuhan yang menghukum mereka, karena DIA-lah yang berhak melakukan-NYA. Yang aku inginkan tak lain adalah, aku ingin istirahat dengan tenang dan melihat ibuku bahagia.”
Hiks.. hiks… hiks… aku lagi-lagi menangis saat denger ucapan penuh sendu haru Shania. Bagaiamana tidak? Dia mengalami siksaan yang pedih tapi dia mau memaafkan empat orang yang udah nghancurin hidupnya itu. Apalagi sampai memikirkan keadaan nyokapnya. Oh tuhan! Kusentuh bahu Shania lagi, dan dia masih tersenyum padaku.
“Trus gimana aku bisa keluarin kamu dari sini, Shan?”
“Pergilah ke belakang rumah ini. Disana ada pohon asem dengan batu besar yang ada di dekatnya. Galilah tanah di bawah batu besar itu, temukan juga jasadku disana dan kuburkanlah aku dengan layak.”
“Lily!” panggil Reyna menemukan aku tengah terduduk diambang pintu gudang.
Aku berdiri dan kupeluk Reyna dengan erat. “Lo kemana aja? Gue, Dika sama Azzam sampai kelimpungan nyariin elo. Ternyata elo malah enak-enakan duduk di sini.
“Gu.. gue…” aku menoleh ke arah Shania, Dang!
Aku terperanjat, saat Shania menghilang begitu aja.
“Kita harus bantuin Shania, Reyn! Kita harus bantuin Shania keluar dari tempat ini!”
Mereka kompak melongo dan saling bertatapan mata. Nggak ngerti apa yang aku bicarakan.
“Heh, Ly! Shania tuh hantu. Udah deh, mending kita keluar aja dari tempat ini. Lagian elo juga ingin pulang kan dari tadi?”
“Iya, Reyn! Gue tahu, Shania memang hantu. Tapi dia butuh pertolongan sama kita!”
“Ly!” panggil Reyna menyusulku. “Ih, tuh anak kenapa sih?! tadi minta pulang, sekarang malah minta bantuin Shania! Ashh, plin plan amat sih tuh anak!” gerutu Reyna dengan terpaksa menyusulku pergi ke suatu tempat.
“Ly, tungguin kita dong!”
Aku nggak gubris mereka. Justru aku mencari pohon asem yang disebutkan oleh Shania tadi dan batu besar yang ada di dekatnya. Dan.. memang bener! Ada pohon asem lengkap dengan batu besar disitu. Aku buru-buru pergi kesana, tapi si Reyna, Azzam dan Dika masih berdiri disana nggak tahu mau ngapain. Aku mendekati batu itu dan melihat ada sedikit ukiran kasar di permukaannya. Meski semua ukiran itu tertutupi oleh tumbuhan lumut. Lantas, aku menyingkirkan lumut itu hingga aku mendapati ukiran yang bertulisan jelas. ‘SHANIA WIJAYANTI’
Ya! Itu pasti kuburannya Shania. Dan jasad Shania terkubur selama delapan tahun di bawah batu ini.
“Temen-temen! Gue nemuin sesuatu disini! Cepetan kesini!”
Lantas, kudengar suara kaki mereka menginjak daun-daun kering itu dan menghampiriku.
“Gue yakin, di sini pasti ada jasad Shania. Kita harus ngeluarin jasad Shania dari sini!”
“Darimana lo tahu, Ly?”
“Shh! Ceritanya panjang, yang terpenting kita harus bisa ngeluarin jasad Shania. Kalau urusannya udah kelar, baru aku ceritain semuanya tentang Shania tadi.”
Saat kami berusaha menyingkirkan batu besar itu, tiba-tiba ada yang orang yang nyelentuk dari kejauhan sana.
“Eh, ngapain kalian disitu?” tanya seorang bapak-bapak pembawa cangkul di pundaknya.
“Ini pak, kami mau menyingkirkan batu besar ini. Kami akan menggali tanah disini dan ngeluarin jasad seseorang dari sini.”
“Hhh? Jasad? Nggak ada orang mati disitu! Adanya disana tuh!” ujar bapak-bapak itu dengan cepat menunjukkan kami pada kuburan yang letaknya dibalik rimbunan pohon bambu di sebrang sana. Samar-samar aku bisa melihat beberapa batu nisan yang berjejeran tak teratur. Itu memang kuburan, yang letaknya terpisah dengan rumah Shania.
“Pak, iya saya tahu! Tapi ada jasad yang udah lama terkubur di sini. Boleh saya pinjam cangkul bapak buat menggali tanah ini?”
Sekilas, bapak-bapak itu cuma menggeleng kepala antara percaya dan nggak percaya dengan omonganku. Dia akhirnya menghampiri kami dan meyerahkan cangkulnya pada Dika. Dia mulai menggali tanah secara bergantian bersama Azzam dan bapak itu.
“Nduk! Kamu darimana aja?” tanya eyang ketika menemukan kami berempat di rumah kosong dan masih sibuk menggali tanah. “Tahu ndak, enyang sama pak RT juga para warga sekitar geger nyariin kamu! Enyang kirain kamu sama temen-temenmu ilang digondhol demit!”
“Hhh? Digondhol setan? Siapa bilang?” tanyaku hampir nggak percaya. Kenapa eyang dengan mudah percaya tentang tahayul kayak begituan. “Yang, maafin Lily kalau kami bikin khawatir eyang. Lily sama kawan-kawan lagi menggali tanah disini.”
“Lho, buat apa tho nduk?”
“Gini.. Yang, Lily yakin disini ada tempat mahasiswi yang hilang sejak delapan tahun yang lalu. Dia sudah meningal, dan jasadnya terkubur disini.”
“Apakah kamu yakin disini tempat mahasiswi yang hilang itu, nak?” tanya pak RT kemudian.
“Iya Pak, saya yakin. makanya saya dan temen-temen coba menggali tanah ini,”
“Ya sudah, kalau memang kamu tahu tentang mahasiswi itu. Tunjukkan pada kami dan kami akan segera bawa kasus ini kepihak yang berwajib!”
Akhirnya pak RT menghimbau beberapa warganya turut serta menggali tanah itu. Tanahnya cukup dalam dan membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Akhirnya..
“Aaaaa!” tiba-tiba Dika menjerit spontan saat melihat beberapa kerangka manusia yang teronggok di gundukan tanah itu.
Ya! Itu pasti kerangka Shania yang sudah selama bertahun-tahun terkubur disitu tanpa ada yang mengetahuinya kecuali aku. Beberapa warga turun ke dalam galian tanah lebar itu bersama Azzam dan mengumpulkan kerangka Shania di tempat seadanya. Untuk divisum ke rumah sakit.
Akhirnya, semua kasus Shania hampir menemukan titik terang tentang siapa yang telah menjadi pelaku menyiksaan dan pembunuhan sadis mahasiswi itu. Aku mulai kebanjiran panggilan ke kantor polisi karena aku sebagai saksi. Sedangkan jasad Shania udah dimakamkan di kampung halamannya di Jogja sekitar beberapa hari yang lalu.
Sekarang, tiba saatnya aku dan ketiga teman-temanku berpamitan pulang pada enyang. Ya, liburanku disini sudah cukup puas. Kami berempat harus balik ke kota asal kami buat mempersiapkan kuliah. Walaupun sebenarnya aku masih betah berlama-lama disini. Dan masuk kuliahnya pun juga masih lama, seminggu lagi.
“Yang, Lily dan kawan-kawan pamit pulang ya.” Ucapku kemudian sambil mencium punggung tangan keriput eyangku.
“Iya, duk. Hati-hati di jalan ya, dan sampaikan salam enyang pada ayah ibumu di Solo.”
“Iya, Yang. Lily bakal sampaikan salam eyang ke mama papa kok. jaga diri baik-baik ya, Yang.” Kemudian, eyang memelukku dan mencium dahiku dengan lembut. Akhirnya, kami berempat meninggalkan rumah eyang dan berjalan beberapa langkah ke arah pertigaan jalan.
“Lily!” tiba-tiba ada suara orang yang manggil namaku. Dan itu, suara Shania.
Kami berempat langsung berbalik saat lihat Shania menghampiri aku.
“Hmm, Lily. Makasih banget ya, kamu mau bantuin aku. Kalau bukan kamu, mungkin aku nggak akan bisa istirahat dengan tenang sekarang.” Ucap Shania mengenggam tanganku.
“Iya kok, Shan. Sama-sama. Lagian, udah jadi kewajiban kita buat nolongin sesama makhluk yang lagi butuhin sesuatu.” Aku tersenyum pada Shania.
Shania memelukku dengan erat. “Hati-hati di jalan ya.”
Dia lantas melepas pelukannya di tubuhku dan tampak melepas kalung emas yang melingkari leher jenjangnya.
“Sebelum kamu pulang, aku mau ngasih kenang-kenangan ini buat kamu. Meski itu cuma kalung emas yang pernah kupakai saat aku hidup, benda itu sebagai tanda kamu pernah berteman sama aku dan sebagai tanda balas budiku karena kamu mau nolongin aku.”
“Ambil ya, Ly. Dan kenanglah aku lewat kalung yang kamu pakai itu.” Kata Shania sambil menyelipkan kalungnya di telapak tanganku.
“Makasih ya, Shan.” Aku memeluknya sekali lagi. “Melalui kamu, aku bisa mendapatkan kenangan yang nggak pernah kubayangkan dan nggak pernah kurasakan sebelumnya. Apalagi tentang pengalaman menakutkan ini.”
Kami jadi terkikik. Dan.. ini lagi deh, si Dika mulai nyerobot-nyerobot. Tanda efek play boy nya mulai mencuat keluar.
“Shania.” Panggil Dika dengan suara sok imut dan romantis.
“Iya,” respon Shania dengan suara lemah lembut.
“Boleh aku minta kenang-kenangannya dari kamu?”
“Boleh kok, emangnya Dika mau minta kenangan apa dari Shania?”
“Cium aku dong,” kata Dika menunjukkan pipinya yang rada kasar campur mulus itu.
“Wooo…ooo!” kami langsung menyoraki Dika denga meriah.
“Hoeekkkk! Amit-amit deh cewek secantik Shania mau nyium nyamuk jingklong segedhe Dika!” celentuk Azzam.
" Diem lu!”
“Oh, boleh kok. Dika,” ucap Shania masih senyum. Spontan, Dika jadi heboh sendiri. Dan siap-siap dengan pipinya yang dideketin di depan muka cantik Shania.
Cupp! Satu ciuman maut mendarat di pipinya dengan sukses. Alhasil Dika jadi terhuyung-huyung karena mau pingsan.
“Aduh, mak! Dika dapet ciuman dari hantu cantik nih. duhh, jadi klepek-klepek dahh! Mantapp!”
“Hmm, ya udah. Kami pulang dulu ya, Shan.” Kataku akhirnya menutup obrolan kecil kami. Sementara Azzam dan Reyna lagi repot membopong tubuh Dika yang lagi dimabuk kasmaran.
“Dahh!” aku dan melambaikan tanganku ke arah Shania sebentar dan kususul mereka yang berjalan ke pinggir jalan raya.
Sementara itu… Shania lekas berbalik badan dan menampakkan wujudnya yang mengenaskan. Dia berjalan ke arah kebun pak Usman. Semakin jauh ia melangkah pergi, dan akhirnya dia menghilang tanpa jejak.

Ghost of Shania (Part 1)

“Dik, mana jambunya?!” teriakku lantang mendangak ke arah pohon jambu itu. Di salah satu dahannya si Dika berusaha memetik satu persatu jambu dan menjatuhkannya ke arah kami.
“Iya.. iya, bentar!” sahutnya kemudian.
Pukk! Pukk! Pukk!
Satu persatu jambu hasil petikan Dika saling berjatuhan. Aku, Reyna, dan Azzam memungutinya dan mengumpulkan ke kantong plastik berukuran besar. Tapi.. ada jambu yang menggelinding jauh dan berhenti tepat di tungkai kaki seseorang. Aku berhenti dan diam di tempat sambil kupandangi kaki misterius itu sampai ke atas.
“Ini jambu kalian?” tanya seorang cewek padaku.
Aku diam lagi saat kulihat wajahnya sangat cantik. Kecantikannya itu melebihi aku dan membuat aku iri banget lihatnya. Kulitnya putih mulus bak porselein, wajahnya rada kayak cewek-cewek korea gitu deh! apalagi rambutnya yang bergelombang indah berwarna coklat gelap.
“I… ya, makasih ya.” Ucapku mengambil jambu dari tangannya.
“Oh iya, boleh aku gabung sama kalian?”
Aku sebenarnya rada terhenyak mendengar kata-katanya. Rasanya agak aneh aja cewek secantik bidadari kayak dia gabung sama geng aku. Apalagi kalau sudah ketemu sama si Dika. Ugh! Pasti dia nggak bakal berhenti nggegebetin cewek ini.
“Eh, Ly! Kamu ngomong sama siapa?” mereka bertiga langsung menghampiri kami berdua.
“Wow! Ada temen baru nih!”
“Yoi, cantik lagi!”
Tuh kan, si Dika mulai lagi dengan gombalannya yang super duper playboy.
“Aku Shania, boleh aku gabung sama kalian?”
Kami saling bertatapan mata. Ada yang mengangguk setuju, kecuali aku yang masih kelihatan ragu. “Udah Ly, biarin aja dia mau gabung sama kita. Lagipula dengan begini kita bisa nambah temen baru. Iya nggak?”
Azzam dan Dika saling mengangguk setuju saat Reyna menerima Shania gabung di geng kita.
“Eh, mbak namanya tadi siapa? Kenalin.. aku Dika. Andika Putra Lesmana.” Sontak Dika menyerobot kami bertiga sambil mengulurkan tangannya.
“Nama saya Shania.” Jawab Shania lagi dengan tutur kata lembut dan sopan. Hingga membuat Dika jadi klepek-klepek nggak berdaya.
“Oh my gosh! Nama yang cantik, secantik orangnya.”
Shania jadi tersipu malu dan dia hanya tersenyum kecil hingga membuat rona pipinya yang putih mulus itu jadi merah merona.
“Wooo…ooo!” kami pun saling menyoraki Dika yang udah keterlaluan playboy.
“Eh, jangan macem-macem ya! Inget Pramesti tuh!”
“Iya… iya! lagian aku juga masih setia kok sama dia.” Sungut Dika rada kesal.
“Ya udah deh, kalau begitu kita makan jambu bareng-bareng yuk!” unjuk Dika dengan nada bijak. Lantas, kami berlima duduk di bawah pohon jambu besar di kebun milik pak Usman dan menikmati jambu hasil buruan kami beramai-ramai.

“Reyn, anterin gue pipis dong. Gue takut nih!” bisikku sambil membangunkan Reyna. Kulihat dengan samar-samar lampu pijar eyangku yang redup itu. Suasananya sangat sepi karena semua orang lagi tidur.
“Duh, gue ngantuk banget nih. Ke kamar mandi sendiri aja ya, Ly.”
Aku sedikit mendesah. Kebiasaan deh kalau Reyna itu susah banget dibangunin.
Akhirnya dengan terpaksa aku bangun sendirian dan pergi ke kamar mandi. Aku membuka pintu besar itu dan di samping kananku ada ruang besar yang digunakan untuk ruang makan keluarga eyang. Dan..
Sekelebat aku ngerasa ada yang orang yang melintas di balik gorden jendela. Cepet banget menghilangnya. Aku berusaha tenang, mungkin ini cuma halusiku aja yang suka mikir macem-macem. Maklum, akhir-akhir ini aku suka banget nonton film horor. Aku berjalan mengarah ke samping kiriku, tempat dimana ada pintu lagi yang akan mengantarkan aku ke kamar mandi. Lagi-lagi.. aku merasa ada yang melintas di belakangku. Dan sontak aja aku menoleh ke belakang.
“Siapa itu? Eyang? Reyn? Dika?” aku manggil nama-nama orang yang ada di rumah ini. Tapi nggak ada jawaban, buru-buru deh aku ngacir ke kamar mandi dan nggak peduli apa yang tadi melintas di belakangku. Beberapa menit kemudian aku keluar kamar mandi. Dan akan masuk ke dalam rumah. Karena kamar mandi dan dapur eyangku letaknya terpisah dari ruangan-ruangan lain. Letaknya pun di belakang rumah.
Saat itu, samar-samar aku melihat ada sosok misterius yang sedang berdiri di dapur gelap eyangku. Tepatnya di depan pintu kecil yang menghubungkan dapur dengan kandang ayam. Wujudnya nggak terlalu kelihatan jelas. Tapi aku bisa menerka sosok itu cewek. Ia memandangi aku sebentar, hingga aku cepat-cepat masuk dan menutup pintu. aku menyeruak di antara selimut tebalku dan berusaha menghilangkan tentang sosok cewek tadi.
“Duh, jujur Reyn! Gue tuh semalam lihat penampakan gitu di dapur eyang. Gue takut banget!”
“Udah deh, Ly. Makanya jangan kebanyakan nonton film horor. Jadi kayak gitu deh akibatnya!” kata Reyna sambil ngomel-ngomel dan dia lagi asyik ngemil klanting (makanan khas daerah eyangku) kami berdua duduk di pagar tembok mengarah ke kebun eyang dan dikejauhan sana ada kebun pak Usman. Aku cuma diam, dan ngaku kalau aku yang salah. Tapi bisa nggak sih Reyna percaya sama aku sedikit aja kalau itu memang bener-bener kenyataan?
Saat Reyna menyingkir dari hadapanku untuk menghampiri Azzam yang lagi asyik internetan di atas dipan kayu, aku melihat sosok cewek itu dari balik pohon-pohon rambutan disana. Dia lagi-lagi menatap aku, hingga akhirnya aku berdiri untuk manggil Reyna.
“Reyn, i…ii.. ituu! ii..tu cewek yang gue lihat kemarin malem!”
“Mana sih? orang nggak ada apa-apa kok!” ketus Reyna kelihatannya rada jengkel mendengar aku suka mikir yang macem-macem. Apalagi tentang hantu.
“Eh, Ly! Mau kemana?” tanya Reyna manggil aku.
Aku nggak ngegubris dia sama sekali. Aku keluar dan menghampiri pohon rambutan tempat dimana aku lihat ada penampakan cewek tadi. Saat aku ada di dekat pohon itu, ternyata nggak ada apa-apa. Justru secara mendadak aku ngerasa ada yang menepuk bahuku.
“Aaaaa!” aku menjerit.
“Lily?” ternyata suara itu berasal dari Shania. “Kamu ngapain disini?” tanya Shania padaku.
“Eng… eng.. enggak kok. aku Cuma.. ya cuma lihat-lihat aja, sambil menikmati udara pagi yang masih segar ini.”
“Oh,”
“Kalau kamu, Shania?” aku balik tanya sama dia.
“Sama kok, aku juga lagi jalan-jalan terus ketemu sama kamu deh.”
“Kamu nggak kerja atau kuliah?”
Shania menggeleng dengan cepat. Sambil berkata, “Kuliahku lagi libur.”
“Kita jalan-jalan bareng yuk!”
“Oh, boleh-boleh. Kalau aku ajak temen-temenku gimana? Kamu nggak keberatan kan?”
“Tentu.” Ucap Shania dengan senyumnya yang begitu hangat.
Akhirnya, aku manggil ketiga temanku untuk ikut jalan-jalanku dengan Shania. Hari ini kami akan keliling desa eyangku. Mungkin ke empang atau ke pinggir sawah atau kalau enggak berburu jambu mete dan buah asem kali ya.
“Gila ya! Tuh cewek secantik Shania masa tinggal sendirian sih di rumah besar itu?” ujar si Azzam sambil membuka obrolan kecil kami saat perjalanan pulang ke rumah eyang. Kami lagi asyik menyusuri jalanan kecil dengan samping kiri kami rumah warga yang dipagari oleh semak-semak belukar dan samping kanan kami kebun yang sebagian besar ditanami pohon kelapa dan singkong.
“Iya sih, gue takutnya dia diperk*sa sama maling..”
Hus! Reyna dengan cepat memotong ucapan Dika yang belum selesai itu.
“Elo tuh ngaco banget sih kalo ngomong.”
“Iya tuh, ngomongin yang enggak-enggak. Tentang Shania lagi.” imbuh Azzam membela omongan Reyna.
“Gue kan cuma mengkhawatirkan Shania, bro!” sengak Dika lagi.
“Mengkhawatirkan sih boleh aja, tapi nggak gitu-gitu amat kalee!”
“Assh, kalian ini pada ngomongin apaan sih?!” ucapku dari tadi ngerasa aneh selama perjalan pulang kami. “Kalian ngerasa ada yang ngikutin kita di belakang nggak?”
“Tuh, mulai lagi deh ngehayalnya!” semprot Reyna lagi-lagi protes.
“Ah udah deh! Daripada ngomongin Shania apalagi nggubris tentang khayalan tingkat tinggi si Lily, mending buruan deh jalannya. Udah mau maghrib nih! Keburu gelap tahu!”
Kata Azzam menyudahi argumen konyol kami. Akhirnya kami mempercepat langkah kaki yang masih berdiri di pertigaan jalan setapak ini. karena jalanan di depan rumah eyang hampir gelap. Cuma dipancari sebuah lampu pijar di pinggir jalan. Itu pun jauh dari tempat kami melangkah. Dan beruntung banget, karena rumah eyang tinggal beberapa langkah lagi. jadi kami bisa sampai disana sebelum azan maghrib berkumandang dan hari senja telah benar-benar gelap.
Hari ini, kami bertiga punya kesempatan buat mampir ke rumah Shania. Maklum mumpung kami belum kembali ke Solo. Dan menikmati liburan kuliah kami yang masih tersisa banyak. Kami menembus tumbuhan ilalang yang tumbuh melintang di sekitar rumah besar Shania.
Rumah Shania terletak di belakang kebun pak Usman dan itu pun kami harus melintasi lahan persawahan yang luasnya berhektar-hektar. Duh, sumpah deh! kalau dipikir-pikir rumah Shania tuh beda banget sama rumah-rumah lain. Rumah Shania letaknya sangat sulit dijangkau oleh sebagian besar warga desa. Letaknya sangat tertutup oleh rimbunan pohon bambu dan rumput ilalang yang sudah memanjang. Hingga menutupi pandangan rumah itu. Ditambah letak bangunan besar itu di atas lahan kosong dan agak berdekatan dengan kuburan. Hii…! serem amat ya. Tapi yang bikin aku heran, kenapa Shania berani amat tinggal sendirian di tempat ini.
“Hai, teman-teman.” Sapa Shania pada kami bertiga yang tengah memasuki ruangan tengah rumahnya. “Selamat datang di rumahku ya, anggap aja rumah ini kayak rumah kalian.”
“Eh.. iya.. iya, Shan. Betewe, rumahmu gedhe banget ya! Tapi, sayang banget kalo…”
“Ssst!” senggol Reyna pada Dika. Aku dan Azzam cuma bisa geleng kepala saat lihat tingkah konyol mereka berdua.
“Ah, Dika bisa aja deh.” Lagi-lagi Shania cuma bisa menyungging senyum karena malu si Dika habis-habisan memujinya. Menurutku itu bukan kata pujian, tapi lebih ke sindiran.
Kemudian, Shania segera mempersilahkan kami masuk ke ruang tamu.
“Sebentar ya, Shania pergi ke dapur dulu. Bikin suguhan buat kalian semua.”
“Oke deh, Shania.” Ucap Azzam kemudian.
“Eh.. Reyn – Ly, gue sama Dika keliling rumah Shania sebentar ya!” tungkas Azzam pada Reyna.
“Iya.. iya, tapi jangan lama-lama ya!” balas Reyna.
Kulihat Azzam dan Dika segera cabut dari tempat kami yag sedang duduk manis di sofa.
“Lily… tolong aku, Ly…” tiba-tiba aku mendengar suara bisikan aneh di telingaku. Dan ngerasa ada desir angin di dekatku. “Keluarkan aku dari sini…” bisikan itu terus menghantui aku sejak aku masuk di rumah ini. Aku berusaha tenang dan melihat-lihat seisi rumah Shania sambil melupakan bisikan aneh tadi.
Kulihat atap-atap rumah Shania seperti sudah sangat kusam dan hampir dimakan usia. Apalagi kipas hias itu juga hampir mau copot karena bergoyang-goyang diterpa angin.
Gubrakk! Terdengar suara benda jatuh yang nyaris membuat kami kaget.
“Tenang, paling cuma tikus kok.” ujar Reyna menenangkanku.
Apa? tikus? Mustahil deh! Masa rumah segede ini ada tikusnya sih? kecuali kalau rumahnya nggak terawat dan nggak berpenghuni.
Fiuh! Aku mencoba tenang lagi. dan lagi-lagi bisikan yang sama muncul di telingaku sambil diiringin suara jeritan cewek yang lagi merintih kesakitan juga suara hantaman benda-benda tumpul mendera tubuhnya bertubi-tubi.
“Aarghhh! Sakittt!”
“Bugg… bugg… bugg!”
“Argggh!”
“Tolong aku…! tolong!”
“Bugg… bugg… bugg!”
“Bunuh saja aku! Bunuh aku!”
Aku mencoba memejamkan mata sambil komat-kamit mengucap kalimat istiqfar dan tahlil berkali-kali. Sampai-sampai, saking aku ketakutan telapak tanganku dibuat basah karena keringat dingin. Dan aku mengenggam erat lengan Reyna.
“Eh, Ly. Tangan lo kok berkeringat sih? lo sakit ya?” tanya Reyna jadi kaget.
“Reyn, please deh! Gue takut.. gue tadi denger bisikan aneh dan mengerikan semenjak masuk di rumah ini. Gue mau pulang aja!”
Reyna menghela nafasnya sebentar. “Ly, please deh! Masa sih kita baru sampai disini trus tiba-tiba pulang gitu aja. Nggak enak hati tahu sama Shania.”
“Tapi, Reyn. gue takut banget!”
“Udah deh, tenangin dulu pikiran lo. Nyebut, Ly!”
Reyna cuma bisa mengelus-elus tanganku. Dan aku berusaha tenang walaupun masih ketakutan.
Sementara itu, Dika dan Azzam kembali dengan gurat rasa penuh kecurigaan.
“Eh, tahu nggak kalian? Dari tadi gue sama Dika keliling rumah Shania, nggak ada foto yang nunjukkin keluarganya Shania di sini. Gue heran deh, ini rumah Shania atau bukan sih?”
“Eh, mungkin aja Shania nyimpen foto keluarganya di suatu tempat. Udah deh, daripada mikirin tentang foto keluarga Shania mendingan mikirin si Lily tuh! Dia lagi ketakutan karena denger suara bisikan aneh.”
“Beneran Ly?” tanya Dika padaku.
Aku nggak menjawab pertanyaannya. Selain aku diam dan berusaha melupakan bisikan aneh itu sejak tadi.
“Maaf ya aku lama banget bikin suguhannya buat kalian.” Tiba-tiba Shania muncul sambil membawa baki berisi minuman es sirup merah dan kue lapis untuk kami. Dia menurunkan baki itu di atas meja dan menaruh suguhan itu satu persatu.
“Dinikmati ya suguhannya. Cuma itu yang aku punya.”
“Iya, Shania.” Reyna membalasnya dan kami bertiga berusaha tersenyum walaupun keadaan rumah Shania nggak bisa ngebuat kami bertiga senyum seutuhnya. Aku pun juga turut tersenyum, dan berusaha menghilangkan kekacauan pikiranku dengan mengambil minuman es sirup merah itu. Baru aku mau menyeruput minuman hasil bikinan Shania, tiba-tiba yang aku lihat adalah segelas darah merah segar di hadapanku. Aku semakin ketakutan dan..
Pyarrr! Gelas itu nggak sengaja aku buang ke lantai.
“Darahh! Darah!” aku berteriak-teriak sambil memandangi cairan merah yang membasahi lenganku.
“Ly, apa-apaan sih?” kata Reyna. “Ini bukan darah, tapi sirup!”
“Oh, aku ganti dengan air putih aja ya.” Kata Shania sambil bergegas ke dapur.
Sementara aku cuma bisa berdiri menjauh dari tempatku duduk tadi.
“Ly, lo kenapa? Kok lo mendadak jadi kayak gini sih?”
Kemudian, Shania datang lagi dan menyodorkan serbet untukku. Tapi..
Lagi-lagi yang aku lihat bukannya serbet bersih, justru kain kotor yang berlumuran darah.
“Stop.. stop.. stop! Gue benci semua ini. Gue benci!”
Shania memandang heran dari aku. Begitu juga dengan Dika, Azzam, dan Reyna.
“Gue mau pulang sekarang juga! Gue nggak mau dibikin gila gara-gara teror sialan ini!”
“Ly!” sahut Reyna manggil namaku dan segera menyusul aku yang udah duluan pergi ke pintu utama.
Aku mencoba buka pintu besar itu, dan.. ini aneh! Pintu itu sudah terkunci. Aku mencoba goyang-goyangin handle pintu itu sampai beberapa kali. Tapi hasilnya tetep nihil.

dia sudah mati !?

Hembusan angin membuat langkah kaki semakin berat, suasana sepi membutku merasakan dinginnya malam, suara penghuni malam seakan terus memanggil, dan perasaan yang ada sekarang hanyalah rasa takut. Aku terus berjalan dengan sikap waspada, seakan ada sepasang mata yang sedang memperhatikan ku. sesekali ku arahkan pandangan ku ke seluruh penjuru, namun tak ku dapati apa-apa, yang ku lihat hanyalah hewan malam yang beterbangan. Aku pun tarus melangkah melanjutkan perjalanan yang tak jelas tujuanya. Ku arahkan kembali pandangan ku ke sekelilingku untuk mencari sesosok yang hidup namun tetap tak ku dapati apapun.
Semakin ku coba untuk menenangkan diri semakin besar pula rasa takut ku. Namun aku tetap terus berjalan, dan ku arah kan kembali pandangan ku untuk memastikan keadaan di sekelilingku dan kudapati seorang gadis tengah duduk sendiri. Ku hampiri gadis itu dengan perasaan yang tak menentu. “se… sedang apa kamu di sini?” tanyaku dengan gugup, namun dia hanya diam dan menunduk.
Tanpa menunggu apapun aku langsung pergi berlalu meninggalkan gadis itu. Rasa takut ku semakin besar dan pertanyaan-pertanyaan aneh mulai ada di benakku… kejadian itu membuat langkah kaki ku berjalan tak beraturan, namun aku terus melangkahkannya…
Aku mulai berlari-lari kecil, berharap dapat segera menemukan apa yang aku cari. Namun seketika langkah ku terhenti saat ku mendengar suara tangis seorang gadis. Aku mulai mencari sumber suara itu dan ku dapati seorang gadis tengah duduk menangis di tepi danau. Dengan diikuti rasa takut aku mencoba mendekatinya dan bertanya “se… sedang apa kamu disini?” namun dia hanya diam dan tak menjawab satu patah katapun, aku semakin merasa penasaran dan mencoba untuk lebih dekat padanya “Ke…napa kamu menangis” tapi dia tetap diam dan seketika aku terkejut saat dia memandang ku dengan tatapan mata yang tajam seakan ingin menerkam ku, aku pun terjatuh dan dia mulai mendekati ku. Dan “hha, cuma mimpi. Untung cuma mimpi” aku menatap jam dinding di kamar ku yang menunjukan sudah pukul 07:05. “wahh… telat, duhh… gimana nih?” gelagapan menyiapkan peralatan sekolah.
Sejak aku bermimpi tentang gadis misterius itu aku jadi ngerasa aneh, ngerasa gak tenang, seperti ada yang sedang mengikutiku dan memperhatikan ku. Sore itu sepulang sekolah aku berjalan sendiri, tiba-tiba terlihat seorang gadis berlari ke arah ku, dan menarik ku, mengajak ku bersembunyi. Aku heran dan tak mengerti kenapa gadis ini menarik dan mengajak ku bersembunyi seakan ada yang mengerjarnya tapi siapa? dan kenapa? “siapa kamu?” tanyaku heran, tapi dia hanya diam dan tak menjawab pertanyaan ku, membuat aku semakin binggung, “kenapa…” (terputus) “sssuuuttt!!!” aku pun langsung terdiam.
Tak lama muncul dua orang laki-laki berbadan besar, dan sepertinya mereka sedang mencari gadis ini. Setelah mereka pergi gadis itu pun mengajakku keluar. “mereka mencari mu” pertanyaan yang dari tadi mengganggu pikiran ku akhirnya ku lontarkan, “iya.” Jawabnya singkat. “tapi kenapa” tanyaku lagi, penasaran, “udah, nanti aja aku ceritakan, sekarang kita cari tempat yang aman dulu.” Jawabnya sambil celingukan kebingungan, “ya udah, ke rumah ku aja gak jauh kok” ajak ku
“Jadi kenapa mereka mencari mu?” tanyaku penasaran ingin tau…
“Oo, iya aku Tarra” menjulurkan tangan.
“Aku Jessi, jadi kenapa mereka mencarimu?” menanyakan kembali
“Aku juga gak tau, akhir-akhir ini aku diteror dan aku diancam ingin dibunuh!”
“Apa… tapi kenapa? Kenapa mereka mau ngebunuh kamu?
“Sebenarnya aku mengetahui suatu rahasia mereka, mungkin karena itu mereka mencari ku.”
“Rahasia!!! Rahasia apa?”
“Beberapa hari lalu… sepulang kerja aku melihat mereka membuang sesuatu di danau! Dan ketika aku perhatikan ternyata itu mayat seorang gadis!”
“Mayat!!! Apa mereka yang membunuhnya?”
“Aku gak tau, yang pasti sekarang aku sangat butuh bantuanmu!”
“Apa?”
“Aku mau kamu datang ke alamat ini” memberikan secarik kertas
“Alamat siapa ini?”
“Itu alamat tempat tinggal orangtua ku, besok mamah aku ulang tahun dan aku mau kamu kasih ini ke dia” menyodorkan sebuah kotak berwarna coklat
“Apa ini?”
“Ini kado buat mamah aku?”
“Kenapa gak kamu aja yang ngasih langsung?”
“Gak mungkin… orang-orang jahat itu sekarang tau tempat tinggal aku, tempat kerja aku, mereka juga udah berusaha untuk bunuh aku dan bukan gak mungkin mereka akan ngelukain keluarga aku juga, kalau mereka tau tempat tinggal orang tua ku, aku gak mau mereka terluka aku sayang banget sama mereka. Jadi aku minta tolong sama kamu. kamu mau kan bantu aku?”
“Ok, besok aku akan cari alamat orangtua kamu, dan aku akan kasih tau semuanya sama mamah kamu, dan utuk sementara kamu tinggal disini aja dulu sampai semua terkendali”
“Iya, makasih ya Jess…”
Keesokan paginya aku ngerasa ada yang aneh dari Tarra dari kemarin dia terlihat pucat, dan sampai pagi ini pun dia belum ada makan.
“Rra, kamu sakit? Muka kamu pucat banget?”
“Enggak, aku gak papa. Kamu jadi kan ke rumah mamah aku?”
“Iya, bentar lagi aku berangkat!, kamu makan dulu gie, muka kamu pucat banget tuh, ntar kamu sakit. Tangan kamu juga dingin banget, kaya mayat idup aja”
“Udah gak papa kok, kamu pergi gie!”
“ya udah, aku pergi tapi kamu hati-hati ya di rumah, jangan kemana-mana dan jangan buka pintu kalau bukan aku yang datang.”
“Iya.”
‘Kayanya ini deh, rumahnya. Rumah tingkat warna hijau… bener, ini pasti rumahnya, tapi kok banyak orang ya?’ batinku
Aku pun mendekati gerbang pintu rumahnya dan kulihat ada seorang penjaga “maaf pak! mamah-nya Tarra ada?” tanya ku pada penjaga itu
“ada, ada neng. Masuk aja…” mempersilahkan masuk
“Iya, makasih” berjalan masuk
aku heran melihat banyaknya rangkaian bunga duka cita,
‘siapa yang meninggal, kok banyak bunga duka cita?’
Di depan pintu terlihat seorang laki-laki tengah menangis, aku pun mencoba bertanya “maaf pak, mamahnya Tarra ada?” tanyaku pada laki-laki itu
“Ada, mari saya antar” sembari menahan isak tangis. Lalu laki-laki itu menghampiri seorang ibu yang ternyata itu adalah mamahnya Tarra Ia pun mendekati dan menghampiri ku, dengan wajah yang masih terlihat kalau dia habis menangis.
“Silahkan duduk, ade siapa?” dengan nada serak suara tangis
“Maaf tante, saya ganggu… saya temannya Tarra, kemarin saya ketemu Tarra dan Tarra menitipkan ini buat tante sebagai kado ulang tahun tante.” Menyodorkan sebuah kotak, tetapi ketika mendengar kata-kata itu tiba-tiba Ia menangis.
“Gak, mungkin Tarra sudah meninggal tiga hari yang lalu, dan mayatnya baru ditemukan polisi kemarin di danau, karena dia korban pembunuhan” jelas laki-laki yang ternyata adalah ayah Tarra
“Gak mungkin, itu mustahil… karana kemarin saya bertemu dengan Tarra dan dia menceritakan semuanya sama saya, bahkan tadi pagi saya masih bertemu dengannya, dia juga menginap di rumah saya. Mana mungkin dia sudah gak ada”
mamah Tarra terus menangis tanpa berkata apapun Ia menuntunku ke tempat yang membuat aku terdiam, kaget dan tak dapat berkata apa-apa, aku gak percaya sama apa yang aku lihat ternyata yang terbujur kaku, tak berdaya di depan ku adalah jasad TARRA