Bel tanda istirahat telah usai berbunyi, Citra, Syfa dan Desi segera berlari ke kelas untuk tidak telat mengikuti pelajaran.
“huffthh… Kalian ini, selalu deh pergi ke kantin lamaaaa bangeeett..” gerutu Ayunda
“iihh kita kan laper banget..” jawab Citra yang duduk di samping Ayunda,
“iya bener tuh, lagian kamu kenapa nggak jajan sih?” Tanya Syfa yang duduk di depan Ayunda,
“kalau kamu nggak punya uang pinjam aku dulu saja” tawar Desi yang duduk di samping Syfa.
“ya bukannya aku lagi tidak ada uang, tapi aku lagi mau hemat” jelas
Ayunda yang merupakan anak yang lumayan sederhana dan baik hati
“yaelah, ngapain sih hemat-hemat? Memang kamu mau beli apa?” tanya Syfa
yang merupakan anak yang juga sederhana tetapi lumayan pelit
“aku mau pakai buat beli boneka teddy bear yang besar” jawab Ayunda sambil senyum-senyum
“minta beliin saja sama papa mama kamu” saran Citra yang sangat manja sama papa dan mamanya
“iya betul tuh kata Citra” timpal Desi yang paling berada keluarganya.
“sudah deh, oh iya nanti kita latihan nari yuk, kan sebentar lagi mau ujian tari” ucap Citra,
“kapan sore ini?” Tanya Syfa
“ya iya lah, memang kita sudah berapa kali latihan? Sekali saja belum”
jawab Citra gemes sambil mencubit pipi Syfa. Syfa hanya merintih pelan
kesal sedikit
“iya sih, tapi nanti pulangnya malam dong?” Tanya Ayunda yang sepertinya takut,
“iya lho Cit, katanya sekolah kita ini angker” ucap Desi
“aku nggak takut, manja-manja begini aku tuh berani!” sombong Citra,
“besok aja deh, besok kan minggu” saran Ayunda
“yah aku nggak bisa, besok aku mau jalan sama keluarga aku ke taman buah” Ucap Syfa
“wuiss, enak banget tuh, iya aku juga nggak bisa besok aku kan ke rumah nenek abis itu mau ke dufan” jelas Desi menambahkan
“iya aku juga nggak bisa, besok aku mau jalan sama papa aku ke istana lollipop” tambah Citra
“asyik banget yach kalian pada jalan-jalan” murung Ayunda
“tenang, aku bawain oleh-oleh kok” bujuk Citra
“iya aku juga bawain oleh-oleh” ucap Desi dan Syfa bersamaan.
“jadi, Sore ini ya, di perpus, tenang, Pak Kasim kan berserta keluarganya tingga disini” ucap Citra
“ya sudah deh setujju” ucap Desi, Ayunda dan Syfa.
Sepulang sekolah mereka bertiga ke perpustakaan sekolah yang terletak
di halaman belakang sekolah. Di sebelah utara Perpustakaan itu tanah
kosong yang ditanami tanaman singkong, di sebelah selatan ada kamar
mandi siswa, di sebelah barat kantin, dan sebelah timur lapangan voli.
“aduh, sudah maghrib nih.. ayo cepat pulang” pinta Ayunda pada teman-temannya
“nanti, kita pada belum hafal gerakan yang terakhir, sebentar saja,
sehabis ini kita ulang gerakan dari yang pertama sampai selesai sehabis
itu kita pulang” jelas Citra.
“ya sudah ayo cepat latihan, lebih cepat lebih baik” ucap Desi, Syfa
yang terlihat gelisah hanya duduk terdiam saat teman-teman sudah berdiri
semua
“kenapa kamu Syfa?” Tanya Citra heran,
“aku mau buang air kecil” jawab Syfa malu
“aduh, Syfa! Kebiasaanmu itu bisa tidak di tahan? Sudah tahu lagi keadaan seperti ini” marah Desi,
“ya mau gimana lagi? Aku sudah tidak tahan, antarkan aku dong..” pinta Syfa pada salah satu temannya
“ya sudah sama aku saja, aku juga mau buang air” ajak Ayunda.
Akhirnya mereka berdua ke kamar mandi yang tak jauh dari perpustakaan, kini tinggal Citra dan Desi di Perpustakaan.
“Ayunda, kita masuk berdua yuk, aku takut masuk ke dalam sendirian” pinta Syfa,
“ya, baru aku mau saran begitu” jawab Ayunda segera memasuki kamar
mandi, di dalam kamar mandi tidak terasa di atas mereka ada yang
memperhatikan, saat mereka sudah selesai buang air, Syfa baru
menyadarinya.
“Ayunda, di atas itu apa?” Tanya Syfa merinding
“apa sih? jangan bercanda deh?” marah Ayunda ketakutan sambil segera
memegang pintu dan segera keluar, mereka berlari menuju perpustakaan,
“memang apa yang kamu lihat Syfa?” Tanya Ayunda penasaran sedikit takut
“aku melihat perempuan tergantung di atas genteng kamar mandi sambil
menjulurkan lidahnya, aku takut Ayunda ayo cepat pulang” jelas Syfa
sambil menangis
“ya sudah ayo kita bilang ke yang lainnya” bujuk Ayunda ketakutan juga.
Citra yang melihat dari kejauhan Syfa menangis segera mendekat
“ada apa? Kok Syfa menangis?” Tanya Citra
“ayo Citra kita pulang, aku takut” pinta Syfa masih menangis,
“Syfa habis melihat sesuatu di kamar mandi” jelas Ayunda, tiba-tiba saja
Desi pingsan di ketidaksadaran mereka semua “hei Desi kenapa?” Tanya
Citra yang melihat Desi tiba-tiba terjatuh, mereka berusaha membangunkan
Desi, tetapi Desi masih pingsan, Syfa tambah menjadi-jadi menangisnya,
“Citra panggil Pak Kasim!” perintah Ayunda
“ok, aku segera kembali”
Citra pun berlari menuju kantin dimana Pak Kasim dan keluarganya
tinggal di dekat kantin. Citra mengetuk-ngetuk pintu rumah kecil yang
terbuat dari kayu tersebut, tetapi tidak ada jawaban, “aduh, Pak Kasim,
Pak!! Buka pintu dong!” teriak Citra sambil masih menggedor gedor pintu,
tiba-tiba saja ada sesuatu di belakang Citra yaitu laki-laki besar yang
sangat-sangat besar Citra yang menyadari langsung teriak dan dalam
seketika teriakan tersebut hilang disertai Citra pergi entah kemana.
Di perpustakaan Ayunda panik karena Citra tidak datang-datang,
“aduh Citra lama banget sih?” gerutu Ayunda, tanpa disadari lagi Syfa menghilang tiba-tiba
“aduh Syfa kemana lagi?” gerutu Ayunda tambah takut karena dia sendiri
bersama Desi yang masih pingsan, Ayunda memberanikan diri untuk menyusul
Citra, tetapi saat ingin keluar perpustakaan terlihat tak jauh di
lapangan voli, Syfa terbaring bersimbah darah di tengah lapangan, Ayunda
yang melihat itu lemas tak berdaya, yang ada dipikirannya hanyalah
bertemu Citra yang membawa Pak Kasim untuk cepat keluar dari sekolah
yang cukup luas itu, di perjalanannya menuju kantin, tepat saat melewati
pohon nangka Ayunda melihat Citra tergantung-gantung sambil menjulurkan
lidahnya, Ayunda shock dan langsung menuju rumah Pak Kasim, dia
mengetuk sekeras mungkin sambil menangis ketakutan, tiba-tiba saja sosok
wanita dengan pakaian putih muncul di samping rumah Pak Kasim dengan
terngesot-ngesot, Ayunda segera lari karena wanita itu mengejarnya,
Ayunda berlari menuju perpustakaan dengan berharap Desi telah terbangun
dari pingsannya, tapi, Ayunda mendapati Desi tidak ada di dalam
perpustakaan, harapan Ayunda hanya satu, yaitu menuju pintu gerbang
sekolah yang dia tahu belum di kunci, Ayunda terus berlari, tetapi saat
sampai di pintu gerbang terlihat Desi berdiri dengan wajah pucat, Ayunda
sangat bersyukur ternyata Desi telah sadar,
“ooohhh Desi syukurlah kau masih hidup, ayo cepat kita keluar dari
sekolah ini, Syfa dan Citra telah tiada” tangis Ayunda, tiba-tiba saja
Desi mencekik leher Ayunda, ayunda bingung apa yang dilakukan Desi
“Desi apa yang kau lakukan? lepaskan” pinta Ayunda dengan nada suaranya telah hampir habis, Desi hanya melotot menatap Ayunda..
ayunda menangis sekencang2nya tiba2 sosok makhluk menghampiri oh itu adalah pak kasim, pak kasim segera membantu. ayunda pulang dengan rasa bersalah.
ESOKNYA
jasad semua teman2nya itu dikuburkan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar